Labels

Al-Hikam (1) Allah Akan Memperbolehkan Ummat Muhammad Bersujud Di Hari Qiyamat (1) Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu (1) Allah Memanggil Satu-Persatu Hamba-HambaNya do Yaumal akhir (1) Anjuran Berdo'a (1) Anjuran Ikhlas dalam Beramal (1) Aqidah (1) Barangsiapa yang senang Bertemu dengan allah (1) Belas Kasih Dan Do'a nabi Untuk UmmatNya (1) Berdirinya Manusia dihadapan Allah pada Hari Qiamat (1) Bila Allah Mencintai HambaNya (1) Cinta (1) Cucu-Cucu Rasulullah SAW (7) Dialog Tuhan dengan Nabi Adam (1) DikumpulkanNya Mahluq dengan Kekuatan dan KekuasaanNya (1) Dimudahkan Bacaan Al-Qur'an (1) Dorongan untuk Mengerjakan Keutamaan dan Larangan dari Melakukan Kehinaan (1) Etika Berdo'a (1) Firman allah kepada Penghuni surga (1) Firman Allah kepada Rahim (1) Gambaran Manusia di Akhir Zaman (1) Hadist Shahih Muslim (53) Hadits Arba'in (42) Hadits Qudsi (48) Hadits Sahih Bukhari (30) HusnuDzhan (Berbaik Sangka) kepada allah SWT (1) janji Allah (1) Keluarga Rasulullah SAW (1) Kemurahan Allah (1) Keutamaan Dzikir dan kalimat Tauhid (1) Keutamaan Infaq (1) Keutamaan Puasa (1) Keutamaan Shalat Dhuha (1) Keutamaan Shalawat atas Nabi (1) Larangan Untuk Memusuhi Wali-Wali Allah (1) Manusia Yang Pertama Kali Diadili di Hari Qiyamat (1) Mutiara Berserak Delapan Kata (1) Mutiara Berserak Empat Kata (1) Mutiara Berserak Lima Kata (1) Mutiara Berserak Sembilan Kata (1) Mutiara Berserak Tiga Kata (1) Mutiara Berserak Tujuh Kata (1) nanti ia akan dipertemukan (1) Neraka Mengadu Kepada Tuhannya (1) Orang Mu'min Melihat Allah di Yaumal Akhir (1) Orang Yang sibuk dengan Al-Qur'an dan Dzikir Hingga Lupa Meminta Kepada Ku (1) Para Istri Rasulullah SAW (13) Para Paman Rasulullah SAW (5) Penciptaan Adam (1) Penciptaan Anak Adam (1) Perdebatan Surga dan Neraka (1) Putra - Putri Rasulullah SAW (1) Putra-Putri Rasulullah SAW (7) Rawi (5) Sabar Terhadap Musibah (1) Sastra Religi (7) Suap (1) Syair Imam Syafi'i (1)

Wednesday, November 21, 2012

Syair Imam Syafi'i

TIPUAN PALSU 
Aku melihat tipu muslihat dunia,
tatkala ia bertenggerdi atas kepala-kepala manusia,
dan membincangkan manusia-manusia yang terkena 
tipunya. 
Bagi mereka,
Orang sepertiku tampak amat tak berharga.
Aku disamakan olehnya,
dengan anak kecil yang sedang bermain di jalanan.

MENCINTAI AKHIRAT 
Duhai orang yang senang memeluk dunia fana,
Yang tak kenal pagi dan sore dalam mencari dunia,
Hendaklah engkau tinggalkan pelukan mesramu,
kepada duniamu itu.
Karena kelak engkau akan berpelukan,
Dengan bidadari di surga.
Apabila engkau harap menjadi penghuni surga abadi,
maka hindarilah jalan menuju api neraka.

RENDAH HATI
Bagaimana mungkin kita dapat sampai ke Sa’ad,
Sementara di sekitarnya terdapat gunung-gunung 
dan tebing-tebing.Padahal aku tak beralas kaki,
dan tak berkendaraan.
Tanganku pun kosong dan,
jalan ke sana amat mengerikan.

TENTANG CINTA
Engkau durhaka kepada Allah,
dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya.
Ini adalah suatu kemustahilan.
Apabila benar engkau mencintai-Nya,
pastilah engkau taati semua perintah-Nya.
Sesungguhnya orang menaruh cinta,
Tentulah bersedia mentaati perintah orang yang dicintainya.
Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu,
setiap saat dan tak ada rasa syukur,
yang engkau panjatkan kepada-Nya.

KEPUASAN (QANA'AH)
Aku melihat bahwa kepuasan itu pangkal kekayaan,
lalu kupegang erat-erat ujungnya.
Aku ingin menjadi orang kaya tanpa harta,
dan memerintah bak seorang raja. 

ANUGRAH ALLAH
Aku melihat-Mu pada saat penciptaanku,
yang penuh dengan anugerah.
Engkaulah sumber satu-satunya,
pada saat penciptaanku.
Hidarkan aku dari anugerah yang buruk. 
Karena sepotong kehidupan telah cukup bagiku,
hingga saat Engkau mematikanku.

Etika Berdo'a


Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
“Janganlah pencarianmu (doa-doamu) sebagai sebab untuk diberi sesuatu dari Allah Swt, maka pemahamanmu kepadaNya menjadi sempit. Hendaknya pencarianmu (doa-doamu) semata untuk menampakkan wujud kehambaan dan menegakkan Hak-hak KetuhananNya.”
Pencarian merupakan arah yang menjadi sebab terwujudnya kehendak yang harus ada. Pencarian, usaha, doa, ikhtiar merupakan rangkaian sebab-sebab menuju apa yang ingin diraih. Termasuk disini adalah berdo’a
Umumnya orang berdoa agar terwujud apa yang diinginkan. Berikhtiar agar tercapai apa yang dicita-citakan. Padahal dimaksud Allah Swt memerintahkan kita berdoa dan berupaya, semata-mata agar eksistensi kehambaan kita yang serta fakir, serba hina, serba tak berdaya dan lemah muncul terus menerus di hadapanNya. Bukan, agar kita bisa mewujudkan apa yang kita kehendaki, karena hal demikian bisa memaksa Allah Swt menuruti kehendak kita.
Pemahaman yang sempit tentang Allah Swt, akan terus menerus berkutat pada sikap seakan-akan Allah-lah yang mengikuti selera kita, bukan kehendak kita ini akibat kehendakNya, perwujudan yang ada karena kehendakNya, bukan disebabkan oleh kemauan kita.
Ketika manusia berdoa seluruh kehinaan dirinya, kebutuhan dirinya dan kelemahannya serta ketakberdayaannya muncul. Itulah hikmah utama dibalik berdoa. Ketika kita berikhtiar, pada saat yang sama kita menyadari betapa tak berdayanya kita. Sebab kalau kita berdaya, pasti tidak perlu lagi ikhtiar dan berjuang.
Di sisi lain, kita dituntut untuk terus menerus menegakkan Hak-hak KetuhananNya, bahwa Allah berhak disembah, berhak dimohoni pertolongan, berhak dijadikan andalan dan gantungan, tempat penyerahan diri, berhak dipuji dan dipatuhi, berhak dengan segala sifat Rububiyahnya yang Maha Mencukupi, Maha Mulia, Maha Kuasa dan Maha Kuat. Semua harus terus tegak di hadapan kita. Dan itu semua bisa terjadi manakala kehambaan kita hadir.
Ironi-ironi dalam ikhtiar dan doa kita sering terjadi. Kita lebih memposisikan sebagai “tuhan”, dengan banyak memerintah Tuhan agar menuruti kehendak kita, kemauan kita, proyeksi-proyeksi kita. Diam-diam kita menciptakan tuhan dan berhala dalam jiwa kita, agar dipatuhi oleh Allah Sang Pencipta. Inilah piciknya iman kita kepadaNya, yang sering memaksaNya sesuai dengan pilihan-pilihan kita, bukan pilihanNya.
Karena itu hakikatnya, menjalankan perintah doa itu lebih utama dibanding terwujudnya doa kita (ijabah). Ikhtiar kita hakikatnya lebih utama daripada hasil yang kita inginkan. Perjuangan kita hakikatnya lebih utama dibanding kemangan dan kesuksesannya. Ibadah lebih utama dibading balasan-balasanNya. Karena taat, doa, ikhtiar itu menjalankan perintahNya. Sedangkan balasan, ijabah, sukses, kemenangan, bukan urusan manusia dan tidak diperintah olehNya.
Banyak orang berdoa, beribadah, berikhtiar, tetapi bertambah stress dan gelisah. Itu semua disebabkan oleh niat dan cara pandangnya kepada Allah  Swt yang sempit. Sehingga, bukan qalbunya yang menghadap Allah Swt, tetapi nafsunya.
Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily, ra berkata: “Janganlah bagian yang membuatmu senang ketika berdoa, adalah hajat-hajatmu terpenuhi, bukan kesenangan bermunajat kepada Tuhanmu. Hal demikian bisa menyebabkan anda termasuk orang yang terhijab.”
Bahwa kita ditakdirkan bisa bermunajat kepadaNya, seharusnya menjadi puncak kebahagiaan kita. Bukan pada tercapainya hajat kebutuhan kita. Kenapa kita bisa terhijab? Karena kita kehilangan Allah Swt, ketika berdoa, karena yang trampak adalah kebutuhan dan hajat kita, bukan Allah Tempat bermunajat kita.

Friday, October 19, 2012

Bila Allah Mencintai HambaNya

Syekh Ahmad Rifa'I.
Siapa ng mnyampaikan hadits pada ummatku dalam rangka menegakkan unnah, atau demi menghancurkan ah, maka masuk surga."(HARI Abuu Nuaim dari Al Hilayah).


Para ahli syurga, dalam hadits mulia ini, adalah mereka yang terus menerus menegakkan Sunnah, membelah bid’ah, demi menunggalkan Allah Ta’ala, tawakkal kepadaNya, iman dan cinta kepadaNya.


Anak-anak sekalian! Sebenarnya kekasih hati adalah Allah Swt. Bila Allah Swt mencintai hambaNya, Dia menampakkan rahasiaNya pada keagungan kekuasaanNya, dan Allah Swt, menggerakkan hatinya sebagai limpahan anugerahNya, Allah Swt, memberi minuman dari piala gelas cintaNya, hingga ia mabuk dari selain Dia, lalu dijadikannya berada dalam kemesraan, kedekatan dan kesahabatan denganNya, sampai ia tidak sabar untuk segera mengingatNya, tidak memilih yang lainNya dan tidak sibuk dengan satu pun selain perintahNya.

Syeikh Abu Bakr al-Wasithy ra,  berkata, ”Posisi cinta lebih di depan dibanding posisi takut. Siapa yang ingin masuk dalam bagian cinta, hendaknya ia selalu husnudzdzon kepada Allah Swt dan mengagungkan kehormatanNya.”

Diriwayatkan bahwa Allah Swt, memberi wahyu kepada Nabi Dawud as. ”Hai Dawud! Cintailah Aku, dan cintailah kekasih-kekasihKu, dan cintailah Aku untuk hamba-hambaKu.”

Lalu Nabi Dawud as, berkata, “Ilahi! Aku mencintaiMu, dan mencintai kekasih-kekasihMu, lalu bagaimana mencintaiMu untuk hamba-hambaMu?”

“Ingatkan mereka, akan kagunganKu dan kebaikan kasih sayangKu…” Jawab Allah Swt.

Dalam hadits disebutkan, “Bila Allah mencintai seorang hamba dari kalangan hamba-hambaNya, Jibril as, mengumumkan “Wahai ahli langit dan bumi, wahai kalangan wali-wali Allah dan para Sufi! Sesungguhnya  Allah Ta’ala mencinta si Fulan, maka cintailah dia.”

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Saw: “Apabila Allah Ta’ala mencintai hamba, maka Jibril mengumandangkan, “Sesungguhnya Allah sedang mencintai si Fulan, maka cintailah dia. Lalu penghuni langit pun mencintainya, baru kemudian di diterima oleh penghuni bumi. Namun bila Allah Ta’ala membenci si Fulan, maka Allah Swt  mengundang Jibril dan berfirnman, “Aku lagi membenci si fulan, maka bencilah ia.!” Jibril pun membencinya, kemudian mengajak kepada penghuni langit dengan mengatakan, “Sesungguhnya Allah sedang membenci si Fulan, maka bencilah padanya. Lalu rasa benci itu diturunkan di muka bumi.”

Abu Adullah an-Nasaj ra, mengatakan, “Setiap amal yang tidak disertai cinta kepada Allah Swt, tidak bisa diterima.”

“Siapa yang mencintai Allah Swt, maka Dia mengujinya dengan berbagai cobaan. Dan siapa yang berpaling dariNya pada lainNya, ia terhijab dariNya dan gugur dari hamparan para pecintaNya.”

Abdullah bin Zaid ra, berkisah, “Saya sedang bertemu dengan lelaki sedang tidur di atas salju, sementara di keningnya bercucuran keringat. Aku bertanya, “Hai hamba Allah! Bukankah sangat dingin!” Lalu ia menjawab, “Siapa yang sibuk mencintai Tuhannya, tidak pernah merasa dingin.”

“Lalu apa tanda pecinta itu?” tanyaku.
“Merasa masih sedikit atas amalnya yang banyak, dan merasa meraih banyak walau mendapatkan sedikit karena dating dari Kekasihnya.” Jawabnya.
“Kalau begitu beri aku wasiat.”
“Jadilah dirimu hanya bagi Allah, maka Allah bakal bagimu.”

Muhammad bin al-Husain ra, mengatakan, “Aku masuk ke pasar untuk membeli budak perempuan. Kulihat ada budak perempuan yang sedang diikat, dan pada kedua pipi tulipnya ada luka, yang terukir tulisan, “Siapa yang yang berkehendak pada kami, akan kami bangkrutkan dia. Dan siapa lari dari kami, akan kami goda dia.”

Inilah, kataku, sebagaimana firman Allah Ta’ala pada hambaNya, “Bila kalian semua mencariKu, maka Kulalaikan kalian dari selain DiriKu, dan Kufanakan denganKu dari dirinya, hingga tidak tahu siapa pun kecuali DiriKu.”

Ada seseorang sedang mengetuk pintu kekasihnya, lalu ada suara dibalik pintu, “Siapa anda?”

“Aku adalah engkau.”
“Ya, silakan aku, masuklah!”

Aku kagum dariMu dan dariku. Engkau fanakan diriku bersamaMu dari diriku. Engkau dekatkan diriku dariMu hingga Aku menyangka Engkau adalah aku.


Tuesday, September 11, 2012

Mengenal Sifat Lahiriyah Bathiniyah


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hawa Nafsu berasal dari nafas api neraka.Ketika nafas itu berembus dari api, syahwat terbawa ke pintu neraka tempat perhiasan dan kesenangan berada, lalu ia mendatangi nafsu. Ketika nafsu mendapat kesenangan dan perhiasan, ia bergolak akibat perhiadan dan kesenangan yang diletakkan disisinya dalam wadah itu, dan ia berupa angin panas. Ia lalu mengalir dalam urat-urat sehingga semua saluran darah terisi olehnya dalam waktu lebih cepat daripada kedipan mata.

Saluran darah mengaliri seluruh tubuh dan kepala hingga kaki. Jika angin itu sudah berembus di dalamnya, lalu jiwa manusia merasakan embusannya dalam tubuh, kemudian ia merasa nikmat dan senang dengannya, itulah yang disebut dengan syahwat dan kenikmatannya.
Apabila nafsu serta syahwat berikut kenikmatannya sudah menempati seluruh tubuh, syahwat menyerang hati. Apabila syahwat sudah demikian hebat, ia menguasai hati, sehingga hati tertawan, yakni takluk kepada syahwat. Selanjutnya, syahwat dapat memainkannya. Kekuatan hawa nafsu dan syahwat ada bersama jiwa dan bertempat dalam perut, sedangkan kekuatan makrifat, akal, ilmu, pemahaman, hafalan, dan pikiran berada di dada. Makrifat ditempatkan di kalbu, pemahaman di fu’ad, serta akal di pikiran, dan hafalan menyertainya.
Syahwat diberi sebuah pintu yang menghubungkan tempatnya ke dada, sehingga asap syahwat yang bersumber dari hawa nafsu bergolak sampai ke dada. Ia menyelubungi fu’ad dan kedua mata fu’ad berada dalam asap itu. Asap tersebut adalah kebodohan. Ia menghalangi mata fu’ad untuk melihat cahaya akal yang dipersiapkan baginya.
Demikian pula amarah ketika bergolak. Ia seperti awan yang menutupi mata fu’ad, sehingga akal pun tertutup. Akal bertempat di otak dan cahayanya memancar ke dada. Ketika awan amarah keluar dari rongga ke dada, ia memenuhi dada dan menyelubungi mata fu’ad.
Karena cahaya akal terhalang, sementara awan menutupi fu’ad, fu’ad orang kafir berada dalam gelapnya kekafiran. Itulah tutup yang Allah sebutkan dalam Al-Quran:
Mereka berkata, “Hati kami tertutup.” (QS Al-Baqarah : 2)
Tetapi, hati orang-orang kafir dalam kesesatan terhadap hal ini. (QS Al-Mu’minun : 63)
Adapun fu’ad mukmin berada dalam asap syahwat dan awan kesombongan. Inilah yang disebut kelaaian.
Dari kesombongan itulah amarah berasal. Kesombongan bertempat dalam jiwa. Ketika jiwa manusia menyadari penciptaan Allah atasnya, kesombongan berada di dalamnya. Inilah sifat lahiriah dan batiniah manusia.
Allah Swt. memilih dan memuliakan manusia yang bertauhid. Dan setiap seribu orang, satu orang dipilih, sementara sembilan ratus sembilan puluh sembilan lainnya tidak dipedulikan. Dia hanya memerhatikan satu dari setiap seribu manusia. Dia mendistribusikan bagian pada Hari Penetapan dan menolak orang yang Dia abaikan, sehingga mereka tidak mendapat bagian.
Ketika mengeluarkan keturunan [manusia] lewat sulbi, Dia menjadikan mereka berbicara, Manusia yang diperhatikan Allah mengakui-Nya secara sukarela saat Allah berfirman, “Bukankah Aku Tuhan kalian?” (QS Al-A’raf:172). Orang yang tidak mendapat bagian dan tidak mendapat perhatian Allah menjawab, “Ya, Engkau Tuhan kami” dengan terpaksa.
Itulah makna firman Allah Swt.: “Seluruh yang terdapat di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya baik dengan sukarela maupun terpaksa.” (QS Al-Imran:83)
Dia menjadikan mereka dalam dua kelompok: kelompok kanan dan kelompok kiri.
Allah Swt. kemudian berfirman, “Sebagian mereka berada di surga dan Aku tidak peduli; Aku tidak peduli ampunan-Ku tercurah kepada mereka. Sebagian lagi berada di neraka dan Aku pun tidak peduli; Aku tidak peduli ke mana kembalinya mereka.”
Dia lalu mengembalikan mereka ke sulbi Nabi Adam as. Dia mengeluarkan mereka pada hari-hari dunia untuk (memberi mereka kesempatan) melakukan amal dan menegakkan hujah. Manusia yang telah dipilih dan dimuliakan Allah, kalbunya dicelup dalam air kasih sayang-Nya sampai bersih. Allah Swt. berfirman, “Itulah celupan Allah, dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada Allah?!” (QS Al-Baqarah:138)
Dia kemudian menghidupkannya dengan cahaya kehidupan setelah sebelumnya ia hanya berupa seonggok daging.
Ketika dihidupkan dengan cahaya kehidupan, ia pun bergerak dan membuka kedua mata di atas fu’dd. Ia lalu diberi-Nya petunjuk dengan cahaya-Nya yang tidak lain adalah cahaya tauhid dan cahaya akal. Ketika cahaya itu menetap di dadanya serta fu’ad dan kalbu merasa teguh dengannya, Ia pun mengenal Tuhan. Itulah maksud firman Allah Swt.: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Dia kami hidupkan ...“ (QS Al-Baqarah:138). Yaitu, dihidupkan dengan cahaya kehidupan.
Allah Swt. kemudian berfirman, “Lalu, Kami berikan untuknya cahaya yang dengan itu ia berjalan di tengah-tengah man usia.” (QS Al-An’am : 122) Yakni, cahaya tauhid.
Dengan cahaya itu, kalbunya menghadapkannya kepada Allah, sehingga jiwa menjadi tenteram dan mengakui bahwa tiada Tuhan selain Dia. Ketika itulah lisan mengungkapkan ketenteraman jiwanya dan kesesuaiannya dengan kalbu berupa ucapan: “laa ilaaha illaa Allah (tiada Tuhan selain Allah).” Itulah makna firman Allah Swt.: “Tidaklah jiwa seseorang beriman kecuali dengan izin Allah” Yunuus dan firman-Nya: “Wahai jiwa yang tenteram.” (QS Al-Fajr : 27)
Kala jiwa sudah merasa tenteram saat melihat perhiasan karena akal menghiasi mata fu’ad dengan tauhid, saat melihatnya itu jiwa merasakan kenikmatan cinta Allah yang meresap dalam kalbu bersama cahaya tauhid. Saat melihat perhiasan, ia merasakan kenikmatan cinta dalam cahaya tauhid. Ketika itulah jiwa menjadi tenang dan senang kepada tauhid. Ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Firman-Nya, menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman indah dalam kalbu kalian.”135
Kala jiwa mendapatkan perhiasan itu, ia membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.
Ketika seorang mukmin berbuat dosa, Ìa melakukan itu dengan syahwat dan nafsunya, padahal ia membenci kefasikan dan kekufuran. Karena benci, ia berbuat fasik dan bermaksiat dalam kondisi lalai. Ia sebenarnya tidak bermaksud kepada kefasikan dan kemaksiatan seperti halnya iblis.
Kebencian itu tertanam dalam jiwa, namun syahwat menguasai jiwa. Kebencian itu ada, karena tauhid terdapat dalam dirinya. Hanya saja, kalbu dikalahkan oleh sesuatu yang merasukinya, akal terhijab, dada dipenuhi asap syahwat, dan nafsu menguasai kalbu.
Ini terjadi lantaran akal kalah, makrifat tersudut, dan pikiran buntu, sementara hafalan dan akal terkurung dalam otak. Jiwa melakukan dosa karena kekuatan syahwat, sementara musuh menghiasi, membangkitkan angan, mengiming-imingi ampunan, serta mempertunjukkan tobat, sehingga hati berani berbuat dosa.

    Makna Dan Hakikat Do'a





    “Bagaimana mungkin permintaanmu yang baru datang belakangan akan bisa mengubah anugerahNya yang terdahulu?”
    Inilah ketegasan tauhid kita untuk memahami hubungan antara doa dan takdir. Banyak para hamba Allah Swt yang merasa ada kontradiksi yang mempengaruhi batin mereka, gara-gara belum tuntasnya antara ikhtiar, doa dan takdir. Dengan sejumlah pertanyaan, apakah takdir itu bisa diubah dengan doa dan usaha? Kalau bisa berarti Allah Swt tergantung pada hambaNya. Kalau tidak bisa apakah makna dibalik perintah doa dan ikhtiar itu?
    Dalam bahasa Sufistik, soal ikhtiar, doa dan takdir dilihat dari dimensi hakikatnya. Bahwa secara hakikat, upaya dan doa itu tidak akan menjadi sebab terwujudnya takdir, dan tidak akan mengubah takdir. Mengapa demikian? Karena takdir Allah Swt, dengan semua ketentuanNya telah mendahului ikhtiar dan doa kita. Bagaimana mungkin, sesuatu yang baru (berupaya upaya dan doa kita) bisa mengubah sesuatu yang mendahului  (ketentuan Allah Swt)?
    Jadi  cara memahami hakikat doa dan ikhtiar adalah:
    Doa dan ikhtiar itu sesungguhnya juga takdir.
    Bila Allah Swt hendak memberi anugerah seseorang, maka si hamba juga ditakdirkan dan diberi kemampuan untuk berdoa dan berikhtiar.
    Doa dan ikhtiar hanyalah tanda-tanda takdir itu sendiri.
    Allah memerintahkan kita berupaya dan berdoa agar kita memahami bahwa kita sangat terbatas dan tak berdaya, sehingga doa dan upaya adalah bentuk kesiapan kehambaan belaka agar kita siap menyongsong takdirNya.
    Aturan syariat mengharuskan kita berikhtiar dan berdoa, karena syariat adalah aturan bagi keterbatasan manusia, dengan bahasa dan tugas manusiawi (taklifi), maka seseorang akan berdoa dan beriktiar dengan penuh kepasrahan dan kerelaan pada ketentuan dan pilihan terbaikNya. Bukannya berdoa untuk memaksaNya mengubah takdirNya.
    Maka Ibnu Athaillah menegaskan dengan ucapan beliau:“Maha Besar (jauh) bila hukum AzaliNya harus disandarkan pada sebab akibat yang baru.”
    Allah Swt adalah sebab segalanya. Dan segalanya bergantung semua kepada Allah Swt. Allah Swt tidak pernah menjadi akibat; seperti akibat kita berdoa Allah menuruti apa yang kita mau, akibat kita berusaha Allah mengubah takdirNya. Jauh dan Maha Suci dari hal-hal seperti itu.
    Berdoa kita lakukan semata untuk ‘ubudiyah, manifestasi kehambaan kita akan terwujud ketika kita berdoa. Sebab dengan berdoa manusia merasa hina dina, merasa butuh, merasa tak berdaya dan merasa lemah di hadapanNya. Dan itulah hakikat ubudiyah dibalik doa, agar kita tetap menjaga rasa hina, rasa fakir, rasa tak berdaya dan rasa lemah. Karena dengan nuansa seperti itu kita akan cukup bersama Allah, mulia bersamaNya, mampu bersamaNya, kuat bersamaNya. Wallahu A’lam.

    Wednesday, June 20, 2012

    CINTA
     
    Tentang Cinta 

    Lalu perhatikan, sesudah itu, bagaimana Anda tidak mengakui adanya cinta kepada Sang Maha Pencipta? Jika mata batin Anda tidak mampu menangkap dan mencermati secara seksama terhadap kemuliaan dan kesempurnaan Sang Maha Pencipta dan tidak mampu mencintai-Nya dengan kecintaan yang amat sangat, maka Anda jangan sampai tidak mencintai pemberi nikmat dan yang berbuat baik kepada Anda!
    Allah Swt. berfirman,
    “Allah mencintainya dan mereka pun mencintai-Nya.” (Q.s. Al-Maidah: 54).
    Dan firman-Nya pula:
    “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (Q.s. At-Taubah: 24).

    Rasulullah Saw. bersabda:
    “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari yang selainnya.” (H.r. Bukhari-Muslim).
    Beliau juga bersabda,
    “Cintailah Allah, karena Dia mengaruniakan nikmat kepada kalian, dan cintailah aku, karena cinta kepada Allah Azza wa Jalla!” (Al-Hadis).

    Abu Bakar As-Shiddiq r.a. berkata, “Barangsiapa merasakan kemurnian cinta kepada Allah, hal itu mencegahnya untuk mencari kehidupan duniawi dan menjadikan dirinya meninggalkan seluruh manusia.”
    Hasan Al-Bashri berkata, “Orang yang kenal Allah, pasti Allah mencintainya. Orang yang kenal dunia, ia pasti hidup zuhud di dalamnya. Seorang Mukmin tidak terkecoh kecuali dia lalai, bila bertafakur ia sedih dan pilu.”
    Sebagian besar ahli kalam (mutakallimun) tidak mengakui adanya cinta kepada Allah. Mereka menginterpretasikannya dengan berkata, “Cinta Allah itu tidak ada artinya, kecuali dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Sebab, tiada sesuatu yang menyerupai-Nya dan Dia tidak menyerupai sesuatu, dan Dia itu tidak sepadan dengan naluri dan watak kita, bagaimana mungkin kita mencintai-Nya?Yang mungkin bagi kita adalah mencintai siapa yang sejenis dengan kita, yakni sesama manusia.”
    Mereka terbelenggu oleh ketidaktahuan mereka atas esensi banyak hal. Persoalan ini telah kami singkap dalam Bab “AI-Mahabbah” pada kitab Al-Ihya’, silakan Anda merujuknya. Di sini kami batasi dengan ringkasan dan intisarinya saja.
    Setiap yang lezat, enak, itu digandrungi, disenangi dan dicintai. Maksud dari kata “dicintai atau disenangi” adalah, jiwa cenderung kepadanya atau digandrungi oleh jiwa. Kecenderungan yang amat kuat disebut keasyikan cinta.
    Maksud dan kata “dibenci” adalah, jiwa berpaling darinya, tidak menyenanginya, karena menjemukan dan menyakitkan. Rasa benci atau keberpalingan yang amat sangat, disebut dendam.
    Segala sesuatu yang Anda rasakan dengan segenap indera dan perasaan bisa selaras dengan perasaan Anda, dan itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Sebaliknya, yang bertentangan dengan indera, selera dan perasaan Anda, itu adalah sesuatu yang menyakitkan. Atau tidak sesuai, ataupun tidak bertentangan dengan indera, atau selera Anda, itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak pula menyakitkan. Setiap yang menyenangkan pasti disukai, artinya, jiwa yang terasang olehnya pasti cenderung dan menggandrunginya. Dan itu tidaklah mustahil.
    Senang atau enak itu mengikuti indera, sedangkan indera itu terdiri dari dua macam: Indera lahir dan batin.
    Indera lahir adalah pancaindera. Sudah barangtentu kelezatan mata itu adalah ketika melihat keindahan-keindahan, kelezatan yang dirasakan oleh telinga ketika mendengarkan alunan melodi yang indah, sedangkan kelezatan rasa dan penciuman adalah ketika merasakan makanan dan bau yang cocok. Sementara, kelezatan yang dirasakan oleh organ-organ tubuh lainnya, ketika mengenakan sesuatu yang halus lagi menyenangkan. Semua itu disenangi jiwa, atau jiwa itu gandrung kepadanya.
    Indera batin adalah kehalusan (lathifah) yang terdapat di dalam kalbu; kadang-kadang disebut akal-budi, kadang-kadang disebut cahaya, dan terkadang pula disebut indera keenam.
    Anda tidak perlu menilik dari kata-kata tersebut, sebab Anda akan mendapatkan kesulitan, tapi perhatikanlah sabda Rasulullah Saw. berikut ini:
    “Ada tiga perkara duniawi kalian yang disenangkan kepadaku (aku menyenanginya), yaitu: wewangian, wanita, dan hal yang paling menyenangkan bagiku, ketika salat.”

    Anda tahu, bahwa pada wewangian dan wanita terdapat unsur untuk disentuh, dicium dan dipandang. Sedangkan apa yang terdapat dalam salat tidak dapat dirasakan atau diindera oleh pancaindera, tapi hanya dapat dirasakan atau diindera oleh indera keenam yang terdapat dalam kalbu. Apa yang dirasakan dalam salat tidak dapat diindera oleh orang yang tidak memiliki kalbu, sebab Allah Swt. itu tertutup antara seseorang dan kalbunya.
    Orang yang merasakan kelezatan hanya terbatas dengan pancainderanya, dia itu adalah binatang, sebab binatang itu merasakan hanya dengan pancaindera semata, sementara keistimewaan manusia dan binatang adalah dibedakan dengan mata batin (al-bashiratul hatinah).
    Kelezatan yang dirasakan oleh indera lahir terjadi pada bentuk keindahan lahiriah, sedangkan kelezatan yang dirasakan oleh indera batin (ruhani) terjadi pada bentuk keindahan ruhani (batin).

    Keindahan Bathin

     Barangkali Anda bertanya, “Apa yang dimaksud dengan bentuk keindahan ruhani?”
    Jawabnya adalah persepsi saya tentang diri Anda. Yakni, bahwa dalam diri Anda tidak merasakan rasa cinta kepada para Nabi, kepada para ulama dan para sahabat. Anda pun tidak dapat membedakan antara raja yang adil, cerdik, berani, perkasa, mulia dan menyayangi rakyatnya, dengan raja yang zalim, bodoh, kikir dan keras.
    Menurut persepsi saya, jika diceritakan kepada Anda tentang kejujuran Abu Bakar, kelihaian politik Umar, kedermawanan Utsman dan tentang keberanian Ali — semoga Allah meridhai mereka — niscaya Anda sendiri tidak akan mendapatkan rasa simpati, senang dan cinta kepada para Nabi, orang yang jujur, dan orang alim yang penuh dengan sifat-sifat mulia. Bagaimana mungkin Anda mengingkari hal ini?
    Padahal di antara manusia ada yang mengikuti jejak pemimpin-pemimpin mazhabnya. Cinta mereka terhadap para pemimpinnya itu mendorong pengorbanan jiwa dan harta demi membela mereka (para pemimpin), dan rasa cinta mereka itu melampaui batas kecintaan yang amat sangat.
    Anda sendiri tahu, bahwa kecintaan Anda kepada mereka bukan karena bentuk lahir mereka, bukan karena mereka rupawan, sebab Anda sendiri belum pernah melihat paras muka mereka. Walaupun Anda pernah melihatnya, tapi Anda barangkaIi tidak menganggapnya rupawan. Sungguhpun Anda menganggap baik, rupawan, padahal bentuk lahir mereka - sebagaimana Anda saksikan, jelek, misalnya — namun sifat-sifat luhur masih tetap ada, maka kecintaan kepada mereka pun tetap ada.
    Ada tiga sifat penting yang akan Anda dapatkan setelah mengamati secara cermat terhadap orang yang Anda cinta setelah dirinci panjang-lebar, yang tidak mungkin termuat dalam buku ini — 1. Ilmu, 2. Kemampuan (kekuatan) dan 3. Bersih dan cela.

    Tentang ilmu, maksudnya adalah ilmu mereka tentang Allah Swt, para malaikat, kitab-kitab dan para Rasul Allah, keajaiban-keajaiban alam semesta dan rahasia ajaran para Nabi-Nya.
    Yang dimaksudkan dengan kemampuan adalah, kemampuan mereka menaklukkan hawa nafsu dan menggiringnya kejalan lurus, serta kemampuan melaksanakan ibadat dengan siasat dan strategi mereka sendiri, serta petunjuk pada kebenaran.
    Tentang kebersihan dan cela adalah, seperti terbebasnya ruhani mereka dari kebodohan, sifat kikir, dengki dan akhlak-akhlak yang tercela. Juga integrasi ilmu yang sempurna dan kemampuan menaklukkan hawa nafsu dengan akhlak mulia pada diri mereka. Itu merupakan bentuk ruhani yang baik, suatu bentuk ruhani yang tidak dicapai atau dimiliki oleh binatang dan tidak dimiliki oleh orang yang serupa dengan binatang, yang hanya terbatas pada indera lahiriah.
    Selanjutnya, jika Anda mencintai mereka karena sifat-sifat yang terpuji semacam ini, padahal Anda tahu bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah figur yang jauh lebih lengkap dari sifat-sifat yang mereka miliki, maka cinta Anda kepada beliau jauh lebih penting.
    Berikutnya, silakan Anda alihkan perhatian kepada Dzat yang mengutus Nabi Muhammad Saw, Penciptanya dan Yang memberikan keistimewaan kepada beliau atas manusia dengan mengutusnya sebagai Rasul — tentu Anda akan tahu, bahwa diutusnya para Nabi oleh Allah, merupakan salah satu bentuk kebaikan dan ragam kebaikan-Nya. Kemudian, menisbatkan kemampuan, ilmu dan kesucian mereka pada Ilmu, Kekuasan dan Kemahasucian Allah, niscaya Anda akan tahu, bahwa tiada Yang Maha Suci selain Tuhan Yang Maha Esa, dan bahwa selain Dia tidak lepas dari cacat dan kekurangan, bahkan kehambaan (manusia kepada Allah Swt.) merupakan bentuk kekurangan terbesar yang dimiliki manusia dari ragam bentuk kekurangan lainnya. Kesempurnaan macam apa bagi orang yang tidak mampu tegak dengan sendirinya, tidak mampu menguasai dirinya, baik itu berupa mati dan hidupnya, rezeki dan ajalnya?
    Ilmu macam apa yang dimiliki oleh orang yang kesulitan untuk mengetahui karakteristik batinnya, baik berupa wujud kesehatan ruhani dan sakitnya ruhani, bahkan dia tidak mengetahui seluruh organ ruhani berikut rincian dan ketentuan-ketentuan perwujudannya, ditambah lagi tentang alam semesta?
    Silakan hal ini Anda bandingkan dan nisbatkan kepada ilmu azali yang meliputi seluruh yang ada, dari data-data yang tanpa batas jumlahnya sampai pada yang seberat atom yang terdapat di langit dan di muka bumi.
    Bandingkan dan nisbatkan pula pada kekuasaan Sang Pencipta langit dan bumi, dimana tidak satu pun dari yang ada keluar dari genggaman kekuasaan-Nya, baik itu dalam hal wujud, eksistensi dan ketiadaannya.
    Nisbatkan dan bandingkan pula kesucian makhluk dari aneka cacat dengan kequdusan-Nya, niscaya Anda tahu bahwa kesucian, kekuasaan dan ilmu hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa; kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki oleh selain Allah sekadar pemberianNya belaka.
    “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (Q.s. Al-Baqarah: 255).
    “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit.” (Q.s. Al-Isra’: 85).

    Sekarang, mungkinkah Anda mengingkari bahwa sifat-sifat yang agung dan terpuji itu disenangi atau dicintai? Atau Anda tidak mengakui, bahwa yang memiliki sifat kemuliaan sempurna itu adalah Allah Swt.?
    “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit.” (Q.s. Al-Isra’: 85).

    Sekarang, mungkinkah Anda mengingkari bahwa sifat-sifat yang agung dan terpuji itu disenangi atau dicintai? Atau Anda tidak mengakui, bahwa yang memiliki sifat kemuliaan sempurna itu adalah Allah Swt.?

     Renungan Cinta

     Lalu perhatikan, sesudah itu, bagaimana Anda tidak mengakui adanya cinta kepada Sang Maha Pencipta?
    Jika mata batin Anda tidak mampu menangkap dan mencermati secara seksama terhadap kemuliaan dan kesempurnaan Sang Maha Pencipta dan tidak mampu mencintai-Nya dengan kecintaan yang amat sangat, maka Anda jangan sampai tidak mencintai pemberi nikmat dan yang berbuat baik kepada Anda! Anda jangan sekali-kali lebih rendah dari seekor anjing, sebab anjing itu mencintai tuannya yang selalu berbuat baik padanya!
    Renungkan hal ini dalam kaitannya dengan jagat raya! Adakah seseorang yang berbuat baik kepada Anda, selain Allah?
    Apakah nasib, rasa lezat, rasa senang menikmati sesuatu, dan kelahapan menikmati nikmat yang Anda miliki itu tidak lain hanyalah Allah yang menciptakannya, memulai dan menetapkannya, serta bukankah Dia yang menciptakan rasa berselera kepada nikmat-nikmat tersebut dan rasa nyaman menikmatinya?
    Renungkan pula tentang organ tubuh Anda dan kehalusan ciptaan Allah Swt. atas diri Anda dengan organ-organ tersebut, agar Anda mencintai-Nya karena kebaikan-Nya kepada Anda!
    Jika Anda tidak mampu mencintai Allah sebagaimana para malaikat mencintai-Nya karena kemahaindahan, kemahaagungan dan kemahasempurnaan-Nya, cukuplah Anda menjadi orang awam saja.
    Uraian di atas merupakan perwujudan dari sabda Rasulullah Saw, “Cintailah Allah, karena Dia mengaruniakan nikmat kepada kalian, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah Azza wa Jalla!”

    Anda bagaikan seorang budak berparas kurang menarik dalam kondisi demikian, sebab budak yang berparas kurang menarik itu cinta dan bekerja untuk mendapatkan upah (imbalan); sudah barang tentu kadar bertambah dan berkurangnya cinta Anda bergantung pada bertambah dan berkurangnya kebaikan, dan ini merupakan ragam cinta yang amat lemah. Yang sempurna adalah, orang yang mencintai Allah karena keindahan dan kemahaterpujian sifat-sifat-Nya yang tidak mungkin dapat disamai dan tiada dua-Nya. Itulah sebabnya, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Daud as.:
    “Bentuk kecintaan kepada-Ku yang paling baik adalah, orang yang menyembah-Ku tanpa pamrih, bukan karena untuk memperoleh pemberian; tapi memenuhi hak rububiyah itu sendiri.”
    Dalam kitab Zabur dijelaskan, “Termasuk orang zalim adalah, orang yang menyembah-Ku karena surga atau neraka. Kalau Aku tidak menciptakan surga dan neraka, apakah Aku tidak pantas untuk ditaati?”
    Suatu saat Nabi Isa as. melintasi sekelompok ahli ibadat, mereka telah ber-khalwat untuk melakukan ibadat. “Kami takut pada api neraka dan mengharapkan surga,” kata mereka.
    “Anda sekalian takut pada makhluk dan Anda sekalian berharap padanya?” komentar Nabi Isa as.
    Selanjutnya beliau melewati sekelompok ahli ibadat lainnya.
    “Kami menyembah-Nya sebagai rasa cinta dan pengagungan karena kemahamuliaan-Nya.”
    “Anda sekalian benar-benar para kekasih Allah, aku diperintahkan mukim bersama kalian,” kata Nabi Isa as.

    Cinta Orang Arif

    Orang yang kenal Allah (al-arf) hanya cinta kepada Allah Swt. semata.
    Apabila mencintai selain Allah, dia mencintainya demi dan karena Allah Swt. Sebab, bisa terjadi seorang pecinta itu mencintai hamba orang yang dicintainya, mencintai kerabat, negara, pakaian, anak angkat, karya dan ciptaannya, serta setiap yang berasal darinya dan dikaitkan kepadanya.
    Seluruh yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan Allah Swt. Seluruh makhluk adalah hamba Allah. Jadi, mencintai seorang Rasul identik dengan mencintai-Nya, sebab beliau adalah seorang utusan yang dicintai-Nya dan sekaligus merupakan kekasih-Nya. Lalu, mengapa harus mencintai para sahabat? Karena mereka dicintai oleh Rasulullah Saw. dan mereka pun mencintai beliau. Mereka berkhidmat dan tekun mematuhi beliau.
    Cinta atau suka terhadap makanan, karena dapat menguatkan tubuh yang dapat mengantarkan kepada orang yang dicintainya. Mencintai dunia, semata karena merupakan bekal menuju Sang Kekasih.
    Ketika memandangi bunga-bunga, sungai-sungai, cahaya dan keindahan-keindahan dengan penuh cinta, karena semua itu adalah ciptaan Allah Swt. Semua itu (bunga-bunga, sungai-sungai, cahaya dan keindahan) merupakan tanda-tanda keindahan dan kemuliaan-Nya, serta mengingatkan akan sifat-sifat-Nya yang terpuji yang memang dicintai dan disayangi.
    Jika mencintai orang yang berbuat baik kepada dirinya dan mencintai orang yang mengajarinya ilmu-ilmu agama, semata karena dia itu merupakan perantara antara dirinya dan yang dicintainya (Allah), yakni dalam menyampaikan ilmu dan hikmah-Nya kepada dirinya. Dia tahu bahwa Allah-lah yang menakdirkan sang guru mengajari dan membimbingnya, menyuruhnya untuk menginfakkan sebagian hartanya. Kalau tidak karena faktor-faktor yang mendorong sang guru untuk mengajari dan membimbingnya serta menyuruhnya untuk berinfak, tentu dia tidak melakukannya.
    Orang yang paling banyak dan terbesar dalam berbuat baik terhadap diri kita adalah Rasulullah Saw. Milik Allah-lah segala keistimewaan, keutamaan dan anugerah dengan menciptakan dan mengutus beliau; sebagaimana difirmankan-Nya:
    “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.” (Q.s. Al-Jumu’ah: 6).
    Karena itu pula Allah swt. berfirman:
    “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Q.s. Al-Qashash: 56).

    Coba Anda renungkan Surat Al-Fath dan firman Allah Swt. berikut ini:
    “Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (Q.s. An-Nashr: 2-3).

    “Jika kalian menyaksikan banyak hamba Allah yang masuk ke dalam agama-Nya,“ sabda Rasul Saw, “maka ucapkanlah puja-puji kepada Allah, bukan memuji-mujiku!”. Itu adalah pengertian tasbih dengan memuji Tuhannya. Jika perhatian kalbu Anda terarah kepada diri dan usaha Anda, segeralah Anda meminta ampunan kepada-Nya agar Dia memberi ampunan dan tobat. Hendaklah Anda tahu, bahwa tidak ada sedikit pun campur tangan Anda dalam semua urusan.
    Bertitik tolak dari hal inilah Umar bin Khaththab r.a. ketika melihat surat Khalid bin Walid kepada Abu Bakar r.a. setelah penaklukan kota Mekkah, (yang diantaranya berbunyi), “Dan Khalid, Sang Pedang Allah yang terhunus kepada orang-orang musyrik, kepada Abu Bakar, Amirul Mukminin.” Maka Umar r.a. berkata, “Karena pertolongan Allah kepada kaum Muslim, Khalid memandang dirinya dan menyebutnya dengan Si Pedang Allah yang terhunus kepada kaum musyrik.”
    Andaikata dia mencermati kebenaran sebagaimana mestinya, niscaya dia tahu bahwa kemenangan itu bukan karena pedangnya. Namun Allah memiliki rahasia tersendiri dengan kemauan (iradat)Nya dengan memenangkan Islam.
    Karena itu, Allah menolong Islam dengan satu getaran, yaitu getaran rasa takut yang diselinapkan ke dalam hati orang kafir sehingga dia terpukul mundur, sementara yang lain pun melihatnya, sehingga mereka mundur dan kekalahan pun tersebar luas. Khalid bin Walid dan yang semisal, melihat kemenangan Islam karena keberanian dan ketajaman pedangnya.
    Sedang Umar r.a. dan orang-orang yang jujur dengan kebenaran (as-shiddiqin) serta para auliya’ mencermati hakikat persoalan yang sebenarnya. Beliau juga tahu bahwa Khalid bin Walid perlu mengucapkan istighfar dan bertasbih dengan memuji Tuhannya jika menyaksikan hal yang demikian itu, sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah Saw.
    Jadi, motivasi cinta (mahabbah) itu hanya dua: Pertama, ihsan. Kedua, puncak kemuliaan dan keindahan Allah yang berwujud kesempurnaan kemahamurahan, hikmah, ketinggian, kemahakuasaan dan kemahasucian Allah dari segala bentuk cacat dan kekurangan.
    Tiada satu pun bentuk kebaikan dan perlakuan baik, kecuali bersumber dari-Nya. Tidak ada kemuliaan, keindahan dan kesucian kecuali milik-Nya. Seluruh kebaikan dan perilaku baik di alam semesta ini hanyalah satu di antara bentuk kemahamurahan-Nya, yang diarahkan kepada hamba-hamba-Nya dengan satu getaran, yang Dia ciptakan dalam kalbu seorang muhsin.
    Seluruh keindahan, gambar yang bagus, bentuk-bentuk yang elok dan indah yang diindera oleh mata, pendengaran dan penciuman di alam jagat ini tidak lain merupakan salah satu pengaruh dari kekuasaan-Nya, itu merupakan sebagian dari nilai-nilai keindahan Diri-Nya.



    Betapa indahnya semua itu bagi orang yang menyaksikannya dalam alam musyahadah, dan bukti-bukti yang pasti lagi memuaskan, bagaimana mungkin terbayang dia akan berpaling kepada selain Allah Swt, atau mencintai selain Allah Swt.?
    Rasa lezat yang dialami oleh seorang yang ma’rifat kepada Allah di dunia, dengan menelaah dan menyaksikan langsung keindahan hadirat ketuhanan (al-hadharat ar-rububiyah), jauh lebih lezat dari segala bentuk kelezatan lainnya yang terdapat di dunia. Karena kelezatan itu sesuai dengan kadar selera (keinginan) dan kekuatan selera itu sesuai atau sepadan dengan yang diingini.
    Sebagaimana makanan itu merupakan hal yang paling sesuai bagi tubuh, maka sesuatu yang paling sesuai bagi kalbu adalah ma’rifat. Sebab, ma’rifat merupakan santapan kalbu. Sedangkan yang paling memenuhi selera kalbu adalah ruh Rabbani, seperti yang difirmankan oleh Allah Swt, “Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku’.” (Q.s. Al-Isra’: 85).

    Dan Allah Swt. berfirman, “Dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku.” (Q.s. Al-Hijr: 29, Shad: 72).
    Dalam ayat ini Allah menisbatkan ruh kepada Diri-Nya. Ruh semacam itu tidak dimiliki oleh binatang dan manusia yang penihalnya seperti binatang. Itu hanya khusus bagi para Nabi dan wali. Karena itulah, Allah Swt. berfirman:
    “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Q.s. Asy-Syura: 52).
    Jadi, hal yang paling sesuai bagi ruh semacam ini adalah ma’rifat.Karena yang paling relevan bagi segala hal adalah karakteristiknya.
    Karena itu, suara yang merdu tidak sepadan dengan penglihatan (mata), sebab bukan karakternya.
    Karakter ruh manusia (ruhul insani) adalah ma’rifat tentang hakikat. Setiap apa pun yang diketahui hakikatnya itu lebih mulia, mengetahui hakikat, tentu lebih lezat rasanya. Dan tidak ada yang lebih mulia daripada mengenal (hakikat) Allah dan (kerajaan) alam semesta-Nya.
    Mengenal Allah, mengenal sifat-sifat dan Dzat-Nya, keajaiban-keajaiban kerajaan jagat raya-Nya merupakan sesuatu terlezat bagi kalbu, karena kesenangan tersebut merupakan kesenangan paling lezat. Karena itu, diciptakan paling ujung setelah kesenangan lainnya.
    Setiap kesenangan yang diciptakan kemudian, Iebih lezat rasanya daripada kesenangan yang diciptakan sebelumnya.
    Kesenangan yang diciptakan pertama kali adalah selera nafsu makan, kemudian, karenanya, diciptakan nafsu seks. Maka nafsu makan ditinggalkan dan dianggap remeh, untuk memenuhi kepentingan nafsu seks. Selanjutnya diciptakan nafsu dan keinginan untuk berkuasa, untuk mendapatkan kehormatan atau jabatan, yang karenanya meremehkan nafsu seks dan nafsu makan. Lalu diciptakan keinginan atau nafsu ma’rifat (syahwatul ma’rfat) yang dapat mengatasi atau menguasai segala yang ada (alam semesta), sehingga meremehkan keinginan untuk dapat berkuasa dan mendapatkan kehormatan atau jabatan. Ini merupakan akhir yang sekaligus keinginan duniawi paling kuat.
    Anak kecil tidak mengakui adanya nafsu seks. Dia terheran-heran terhadap orang yang membebani dirinya dengan beban harus memenuhi biaya pernikahan demi nafsu seks tersebut.
    Jika telah mencapai nafsu seks, seseorang terus menekuninya tanpa lagi mengingat kehormatan, kedudukan dan kekuasaan; dan dia tidak ambil pusing terhadap kekuatannya dalam memenuhi nafsu seks. Demikian pula dengan orang yang kecanduan nafsu untuk memperoleh kehormatan dan kekuasaan, dia mengabaikan kelezatan ma’rifat, karena belum diciptakannya kesenangan setelah kesenangan berkuasa tersebut.
    Nafsu dan ambisi untuk memperoleh kehormatan dapat berakhir pada sakitnya kalbu, hingga tidak dapat menerima keinginan ma’rifat terhadap Allah Swt, sebagaimana rasa tubuh orang yang sakit, merusak selera makannya hingga ia menemui ajalnya. Kadang-kadang nalurinya berbalik, sehingga ia menginginkan makan tanah dan sesuatu yang berbahaya lainnya. ini adalah awal kematian.
    Demikian halnya dengan penyakit kalbu, bisa saja berakhir pada batas-batas tertentu yang bisa mengabaikan, membenci dan tidak mengakui ma’rifat; serta tidak mcngakui orang-orang yang tekun menuju ma’rifat. Sehingga yang diketahui dan dirasakannya sekadar kelezatan kekuasaan, makanan dan seksual. Dialah mayat yang tidak mau diobati. Tentang orang yang semacam mi disebut dalam Al-Qur’an:
    “Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (Q.s. Al-Kahfi: 57).
    Tentang mereka juga dinyatakan:
    “(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.” (Q.s.An-Nahl: 21).

    Kelezatan Ma’rifat Wajah Allah Swt.
    Sungguhpun rasa ma’rifat ini sangat lezat, tapi tidak bisa dibandingkan dengan kelezatan memandang wajah Allah Yang Maha Mulia nanti di akhirat. Hal itu tidak akan terbayangkan di dunia, karena suatu rahasia yang tidak mungkin tersingkap saat sekarang.
    Tidak seyogyanya kata “memandang” di sini Anda pahami seperti orang awam dan para teolog (mutakallimun) memahaminya, yang butuh arah pasti untuk menentukan tolok ukur dan batasannya. Tentunya ini dari sudut pandang orang yang menekuni alam nyata, yang tidak melampaui benda-benda yang dapat diindera, yang merupakan sasaran indera kebinatangan.
    Anda harus memahami, bahwa hadirat ketuhanan (al-hadharat arrububiyah), bentuk dan susunannya yang ajaib — berupa keindahan, keelokan, kebesaran, kemuliaan, keagungan dan keluhuran, yang merindu dalam kalbu seorang ahli ma’rifat, sebagaimana watak bentuk rupa alam inderawi, dalam indera Anda; walaupun Anda menutup mata, tapi Anda seakan-akan melihatnya. Jika membuka mata, Anda mendapatkan bentuk sesuatu yang diindera sama seperti bentuk rupa yang difantasikan sebelum dibukanya mata, tidak berbeda sama sekali. Hanya saja — dibandingkan dalam bentuk fantasi — bentuk rupa itu diindera dalam wujud yang sangat jelas.
    Demikian pula seharusnya Anda tahu, bahwa mengindera sesuatu yang tidak masuk atau bukan obyek fantasi dan indera, ada dalam dua tingkatan kejelasan yang berbeda. Perumpamaan pertama dengan yang kedua identik dengan perumpamaan penglihatan pada fantasi. Yang kedua merupakan puncak tersingkapnya tirai (kasyf) , yang disebut penyaksian langsung (musyahadah) dan penglihatan langsung (ru’yah). Hanya saja ru‘yah itu tidak disebut ru‘yah karena ada pada mata, sebab bila diciptakan di atas dahi baru disebut ru’yah, akan tetapi itu merupakan puncak kasyf Sebagaimana terpejamnya pelupuk mata merupakan tirai bagi penglihatan mata. Maka kekeruhan nafsu merupakan tirai bagi puncak musyahadah. Karena itulah, Allah berfirman:
    “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.” (Q.s. Al-A’raaf: 143).

    Dan firman-Nya, “Dia tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata.” (Q.s. Al-An’am: 103).
    Jika tirai (hijab) ini telah tersingkap nanti setelah mati, maka ma’rifat itu pasti berbalik menjadi musyahadah dengan sendirinya. Kadar musyahadah masing-masing orang bergantung pada kadar ma’rifatnya; karenanya, rasa lezat yang dialami para wali Allah Swt. itu lebih dibandingkan rasa lezat yang dirasakan atau dialami oleh yang lain. Allah Swt. tajalli dan tampak bagi Abu Bakar r.a. secara khusus dan tampak secara umum bagi manusia.
    Demikian pula, yang melihat-Nya hanyalah orang-orang arif, sebab ma’rifat merupakan awal dari penglihatan, bahkan ma’rifat itulah yang dapat berubah menjadi musyahadah, seperti berubahnya fantasi menjadi penglihatan mata. Karena itu, Dia tidak butuh lawan banding. Rahasia tentang hal ini sangat panjang, silakan Anda merujuk dan membacanya pada Bab “Al-Mahabbah” dalam kitab Al-Ihya’.
    Tentu saja jika penglihatan mata Anda kepada yang Anda senangi, dan bila Anda memandangnya dari sebuah tirai tipis pada saat awan kemerah-merahan, dan pada saat kalajengking dan lalat besar
    menyibukkan dan menyengat dari balik pakaian Anda, maka penglihatan Anda jadi lemah.
    Apabila secara tiba-tiba matahari terbit sekaligus, sehingga tirai tipis itu sirna, kemudian lalat dan kalajengking itu menyingkir, lalu bara cinta yang amat sangat itu menghunjam Anda, tentu rasa lezat yang amat sangat yang telah digapai saat ini tidak bisa dibandingkan dengan yang sebelumnya. Demikianlah, tidak ada yang bisa menyamai kelezatan pandangan mata, kecuali kelezatan ma’rifat, bahkan ma’rifat itu jauh lebih lezat dan pandangan mata. Tirai tipis itu adalah hati luar Anda, sedangkan kalajengking itu adalah kesibukan, kesedihan dan kecenderungan pada kehidupan dunia. Bara cinta yang amat sangat itu adalah rasa yang disebabkan oleh sirnanya kendala dan hal-hal yang menghambat dan menyulitkan. Pancaran matahari adalah kesiapan mata kalbu untuk menerima beban tajalli, yakni ketampakan yang sempurna. Dalam hidup ini, tidak mungkin mata kelelawar dapat menahan sinar matahari.
    Bahwa kesenangan ma’rifatullah itu menjadi lemah karena berdesak-desakannya ragam keinginan. Sebenarnya ma’rifatullah itu tersembunyi, semata karena kilauan penampakan ma’rifat.
    Suatu contoh adalah demikian, Anda tahu bahwa sesuatu yang paling jelas adalah benda-benda yang dapat diindera, diantaranya adalah yang dapat dilihat dengan penglihatan mata, juga cahaya yang menjadikan sesuatu jelas atau terang kepada Anda. Selanjutnya, jika matahari itu terbit terus-menerus tanpa terbenam dan tidak memiliki bayang-bayang, niscaya Anda tidak akan tahu wujud cahaya. Anda melihat warna-warna, maka yang Anda lihat hanyalah warna merah, hitam dan putih.
    Jadi, cahaya dapat diketahui — dapat ditangkap oleh mata — bila matahari itu terbenam, atau terdapat tirai yang menghalanginya, sehingga tampaklah ada bayang-bayang, dan Anda akan tahu — dengan beraneka ragam situasinya karena gelap dan terang — bahwa cahaya itu suatu hal yang bila ditampakkan pada aneka warna, ia menjadi terlihat.
    Apabila Allah itu diproyeksikan secara gaib, atau terbayang, cahaya-cahaya kekuasaan-Nya itu, ada tirai yang menghalangi segala sesuatu, tentu saja Anda mengetahui adanya kesenjangan yang mendesak pada ma’rifat. Namun seluruh yang ada, ketika sama-sama menyatakan penyaksian kemahatunggalan Sang Maha Pencipta tanpa beda, maka persoalannya menjadi tersembunyi, dikarenakan pancaran sinarnya yang sangat terang-benderang itu.
    Andaikata tergambar lenyapnya cahaya-cahaya kekuasaan-Nya dan langit dan bumi, tentu semua itu (langit dan bumi) akan musnah. Pada saat itulah diketahui adanya kesenjangan yang menuntut terwujudnya ma’rifat terhadap kekuasaan dan Yang Kuasa.
    Berikut ini adalah contoh lain, di balik contoh mi terdapat rahasia-rahasia, di dalamnya ada kekeliruan. Silakan Anda mencermatinya dengan sungguh-sungguh, barangkali mampu memahami rahasia-rahasianya. Anda jangan merasa kacau dan bingung pada posisi yang keliru, pada kekeliruan yang Anda dapatkan. Diantaranya adalah kekeliruan orang yang berkata, “Dia ada di setiap tempat. Namun setiap orang yang mencari-Nya ke suatu tempat atau ke sebuah arah, justru akan tersesat dan hina.” Puncak penglihatannya kembali pada tindakan-tindakan binatang yang dapat diindera, hanya saja tidak dapat melanipaui kondisi tubuh dan hal-hal yang terkait dengannya.
    Derajat iman pertama adalah, kemampuan untuk melampauinya, di Situ manusia menjadi manusia, terlebih lagi apabila menjadi manusia Mukmin.
    Cinta itu memiliki banyak indikasi, cukup panjang untuk mengalkulasikannya. Diantaranya adalah, mendahulukan perintah Allah daripada hawa nafsu, terwujudnya sikap takwa dengan wara’, menjaga aturan-aturan syariat.
    Indikasi-indikasi lainnya adalah, rasa rindu untuk bertemu Allah, lepas dari rasa takut mati, kecuali dari segi memperlihatkan rasa rindu pada bertambahnya ma’rifat. Sebab, lezatnya rasa musyahadah bergantung pada kadar kesempurnaan ma’rifat, dimana ma’rifat merupakan permulaan atau awal dan musyahadah. Jadi, kadar musyahadah itu berbeda-beda bagi masing-masing orang sesuai dengan perbedaan kadar ma’rifatnya.
    Indikasi lainnya adalah, ridha terhadap ketetapan Allah, dengan posisi yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Agar tidak terpedaya oleh bisikan yang mengganggu yang terlintas dalam dirinya, hingga ia mengira bahwa kesibukan itu merupakan esensi cinta kepada Allah Swt. Makna ridha merupakan makna yang sangat mulia.

    Sunday, February 12, 2012

    Mutiara Berserak Tiga Kata

    Ibnu Hajar Al-Asqalani
    Suatu hari Rasulullah saw. mengunjungi para sahabat
    la bertanya: Bagaimana keadaan kalian?
    Para sahabat menjawab: Kami beriman kepada Allah
    Rasul saw.: Apa bukti iman kalian?
    Sahabat: Kami bersabar atas cobaan
    Kami bersyukur atas limpahan kehidupan
    Dan kami rela apa pun anugerah Tuhan
    Rasul: Demi Dzat Yang menguasai Ka’bah
    Sungguh kalian mukmin sejati
    hambakan diri kepada Allah
    Dengan ikhlas dan sepenuh hati Jika kalian belum mampu rela
    Jalankanlah dengan lapang dada
    Sebab sesuatu yang kalian cela
    Bisa jadi banyak kebaikannya
    Allah berfirman kepada para Nabi:
    Barangsiapa berjumpa dengan-Ku
    Sedang la mencintai-Ku
    Akan kumasukkan ia ke taman surga-Ku
    Barangsiapa berjumpa dengan-Ku
    Sedang ia takut akan siksa-Ku
    Akan Kujauhkan ia dari api neraka-Ku
    Dan barangsiapa berjumpa dengan-Ku
    Dengan malu-malu
    Akan kubuat lupa malaikat-Ku, untuk menyiksanya
    Ibnu Mas’ud mengatakan:
    Taatilah sepenuhnya perintah Allah
    Sungguh engkau insan yang paling berbakti
    Jauhilah semua larangan Allah
    Sungguh engkau insan zuhud nan suci
    Dan terimalah dengan rela pemberian Allah
    Sungguh engkau insan kaya di bumi
    Ketika Shaleh al-Marqadi melewati
    sebuah perkampungan sunyi
    la bertanya: wahai puing-puing desa
    Di manakah pendudukmu, di manakah generasimu
    Dan di manakah penghunimu dahulu
    Terdengarlah suara menjawab:
    Mereka telah binasa, jasadnya musnah ditelan bumi
    Sedang tanggung jawab mereka belum jua terlunasi


    Ali r.a. mengatakan:
    Berilah hadiah sesukamu pada siapa saja
    Niscaya engkau menjadi rajanya
    Minta-mintalah jika engkau mau pada siapa saja
    Niscaya engkau menjadi budaknya
    Dan mandirilah dari ketergantungan pada siapa saja
    Niscaya engkau sederajat dengannya
    Yahya bin Mu’adz berkata:
    Memilih duniawi akan lupa ukhrawi
    Cinta duniawi akan benci ukhrawi
    Dan benci duniawi akan cinta ukhrawi
    Ibrahim bin Adham pernah ditanya:
    Mengapa engkau tinggalkan hartamu
    Padahal engkau kaya raya?
    la menjawab :
    Aku melihat alam kubur,
    Betapa la menggelisahkan
    Sedangkan aku tak punya pelipur
    Aku memandang arah perjalanan, betapa jauh nian
    Sedang aku tak punya cukup perbekalan
    Dan aku dapati Dzat Maha Memaksa
    Begitu mudahnya putuskan perkara
    Sedang aku tak punya cara, untuk
    menangkal putusannya
    Sufyan ats-Tsauri pernah ditanya:
    Mengapa engkau tenang di sisi Allah?
    la menjawab: Janganlah engkau merasa aman
    Dengan wajahmu yang tampan
    Dengan suaramu yang indah
    Serta lisanmu yang fasih
    Ibnu Abbas berkata:
    Kata “zuhud” terdiri dari tiga huruf.- Za ; Ha’ dan Dal
    Za’: Zadun lil Ma’ad (bekal menuju hari kembali)
    Ha’: Hudan lid-Din (petunjuk menuju jalan Ilahi)
    Dal: Dawamun ‘ala Tha’ah (selalu taat dan berbakti)
    Pada kesempatan yang lain Ibnu Abbas mengatakan:
    Za’: Tarkuz-Zinah (meninggalkan menghias raga)
    Ha’: Tarkul-Hawa (meninggalkan kesenangan jiwa)
    Dal: Tarkud-Dunya (meninggalkan harta benda)
    Hamid al-Laqqaf berkata kepada seseorang
    yang mendatanginya:
    Bungkuslah agamamu
    Seperti halnya engkau bungkus mushafmu
    Dengan menjalani tiga perilaku
    Bicaralah seperlunya
    Milikilah harta secukupnya
    Dan bergaullah sekadarnya
    Kemudian ketahuilah
    Sumber sikap zuhud adalah:
    Menjauhi segala larangan
    Menjalani semua kewajiban
    Dan meninggalkan paham kebendaan
    Luqman al-Hakim bertutur pada anaknya:
    Anakku,
    Diri manusia dibagi menjadi tiga
    Sepertiga pertama untuk Allah, ialah alat kelaminnya
    Sepertiga kedua untuk dirinya, ialah amal perbuatannya
    Dan sepertiga berikutnya untuk cacing tanah,
    Ialah jasad raganya
    Ali r.a. berkata:
    Tiga amalan dapat mempermudah hafalan
    Dan menghilangkan dahak di tenggorokan
    Ialah siwak, puasa dan membaca al-Qur’an

    Mutiara Berserak Empat Kata

    Rasul saw. pernah bersabda kepada Abu Dzar al-Ghifari:
    Abu Dzar,
    Benahilah bahtera,
    Sebab samudera hidup teramat dalam airnya
    Siapkanlah bekal sebanyak-banyaknya
    Sebab perjalanan diri masih teramat lama
    Ringankanlah beban di pundakmu
    Sebab jalan yang engkau tempuh terjal berliku
    Dan sucikanlah perbuatanmu
    Sebab penyelidik selalu saja mamantaumu

    Seorang penyair berkata:
    Adalah wajib bagi manusia,
    Untuk bertobat dari dosa
    Namun ada yang lebih wajib baginya,
    Ialah meninggalkan dosa-dosa
    Adalah berat bagi setiap insan
    Untuk bertabah atas cobaan
    Namun jauh lebih memberatkan
    Jika ia tak punya pahala di sisi Tuhan
    Adalah menakjubkan
    Jika seorang hamba berbakti sepanjang hari
    Namun lebih menakjubkan
    Bila ada seorang abdi lupa diri
    Adalah teramat dekat
    Sesuatu yang akan terjadi
    Namun jauh lebih dekat
    Ajal datangnya mati

    Seorang filosuf berkata:
    Dari empat hal kebaikan
    Muncul darinya empat hal yang lebih baik
    Rasa malu bagi laki-laki adalah baik
    Namun bagi perempuan, itu lebih baik
    Bersikap adil bagi setiap orang adalah baik
    Namun bagi penguasa, jauh lebih baik
    Tobat oleh orang tua adalah balk
    Namun oleh anak muda, jauh lebih baik
    Murah hati bagi orang kaya adalah baik
    Namun bagi orang miskin tentu lebih baik

    Rasul saw. bersabda:
    Bintang-gemintang adalah pengaman,
    Bagi penduduk di atas awan
    Apabila la terpendar murai
    Sungguh aku tak tahu apa yang akan terjadi
    Ahli baitku adalah penjaga,
    bagi seluruh ummat yang ada
    Apabila mereka telah tiada, maka hukum Ilahi yang berbicara
    Aku adalah pelindung, bagi sahabat-sahabatku kini
    Jika nanti aku mait, di situlah hukum
    Tuhan menggariskan
    Gunung-gunung adalah pengukuh
    Bagi penghuni bumi secara utuh
    Jika pun nanti ia tercerai-berai
    Terserah amar Allah akan menyikapi
    Abu Bakar r.a. berkata:
    Empat hal akan sempurna
    Dengan hadirnya empat perkara
    Kesempurnaan shalat dengan sujud sahwi
    Kesempurnaan puasa dengan zakati diri
    Kesempurnaan haji dengan membayar fidyah
    Dan kesempurnaan iman dengan jihad fi sabilillah
    Abdullah bin Mubarak berkata;
    Hak-hak shalat telah terpenuhi
    Apabila seseorang telah menjalani
    Dua belas rakaat sunnah dalam sehari
    Hak-hak puasa telah terselesaikan
    Apabila seseorang telah melaksanakan
    tiga hari puasa sunnah dalam sebulan
    Hak-hak baca telah terlunasi
    Jika seseorang telah mengaji
    seratus ayat al-Qur’an dalam sehari
    Dan hak-hak sedekah telah tersalurkan
    Apabila seseorang telah mendermakan
    satu dirham hartanya dalam sepekan



    Umar r.a. berkata:
    Ada empat macam lautan
    Lautan dosa adalah hawa
    Lautan syahwat adalah nafsu
    Lautan usia adalah kematian
    Dan lautan penyesalan adalah kuburan
    Utsman r.a. berkata:
    Aku dapati manusia berbakti
    pada empat intisari berbakti
    Menjalani perintah Ilahi
    Menjauhi larangan Tuhan Yang Mahatinggi
    Amar ma’ruf dan mengharap pahala
    Serta nahi munkar dan menghindari murka

    Empat keutamaan mengandung kewajiban
    Bergaul orang saleh itu utama
    Mengikuti jejaknya adalah kewajiban
    Membaca al-Qur’an itu mulia
    Mengaplikasikannya adalah sebuah keharusan
    Ziarah kubur itu utama
    Bersiap diri menuju ke sana adalah kewajiban
    Menengok orang sakit itu mulia
    Sedang meminta wasiat adalah keharusan

    Apabila seseorang merindukan surga
    la akan berlari menuju kebaikan
    Apabila seseorang takut neraka
    Ia tinggalkan segala keinginan
    Jika seseorang yakin akan kematian
    Musnahlah darinya rasa kenikmatan
    Dan jika seseorang kenal betul akan dunia
    Musibah baginya bukanlah suatu persoalan

    Rasul saw. bersabda:
    Shalat adalah tiang agama
    Amal sedekah padamkan murka
    Puasa membuat selamat dari neraka
    Dan jihad merupakan geraham agama

    Allah swt, berfirman kepada seorang Nabi:
    Diammu dari kebatilan
    adalah puasa bagi-Ku
    Menjaga anggota tubuhmu dari larangan
    adalah shalat bagi-Ku
    Kau pangkas tamakmu dari sesama insan
    adalah sedekah bagi-Ku
    Dan kau sirnakan bahaya dari manusia
    adalah Jihad bagi-Ku

    Abdullah bin Mas`ud r.a. berkata:
    Penyebab hati menjadi mati
    Adalah terlalu banyak makan
    Berteman dengan orang zalim dan ikut haluannya
    Melupakan dosa-doa yang pernah dilakukan
    Dan menumpuk tinggi angan-angan
    Sedang penerang hati
    Adalah makan sekadarnya
    Berteman dengan orang-orang saleh dan mengikutinya
    Ingat dosa yang pernah dilakukannya
    Dan membangun harapan sesuai kemampuan

    Hatim al-Asham berkata:
    Adalah dusta
    Orang yang mengaku cinta Allah
    Tapi tak pernah peduli akan larangan-Nya
    Orang yang mengaku cinta Rasul
    Taip menelantarkan fakir miskin di sekitarnya
    Orang yang mengaku takut neraka
    Namun tak indahkan dosa-dosa
    Dan orang yang mengaku cinta surga
    Namun tak mau mendermakan hartanya

    Rasulullah saw. bersabda:
    Tanda-tanda orang celaka adalah
    Lupa dosa masa lampau
    Padahal Allah mencatatnya
    Ingat kebaikannya yang telah lalu
    Padahal belum tentu diterima
    Dalam hal duniawi
    Memandang orang yang setingkat di atasnya
    Dan dalam hal ukhrawi
    Memandang orang yang sederajat di bawahnya
    Sedangkan tanda-tanda orang bahagia
    Adalah ingat kesalahan yang dilakukan
    Tidak mengagungkan kebaikan yang diamalkan
    Dalam hal duniawi
    Melihat betapa banyak orang yang di bawahnya
    Dalam hal ukhrawi
    Melihat betapa amal baktinya belum seberapa

    Seorang filosuf berkata:
    Empat panji-panji iman adalah
    Takwa, rasa malu, syukur dan sabar

    Mutiara Berserak Lima Kata

    Rasulullah saw. bersabda:
    Orang yang memandang rendah lima Manusia ia merugi akan lima hal
    memandang rendah Ulama, rugi tentang agama
    memandang rendah Penguasa, rugi tentang dunia
    memandang rendah Tetangga, rugi akan bantuannya
    memandang rendah Saudara, rugi akan darmanya
    dan memandang rendah Keluarga, rugi akan harmonisnya

    Rasulullah saw. bersabda:
    Akan datang suatu masa dimana ummatku mencinta lima hingga mereka lupakan lima
    cinta dunia, lupa alam baka
    cinta tanah subur, lupa alam kubur
    cinta harta benda, lupa hisab amalnya
    cinta anak istri, lupa bidadari dan
    cinta diri sendiri, lupa pada Ilahi

    Rasulullah saw. bersabda:
    Allah berikan lima upaya dan disediakan-Nya imbalan lima
    Allah ajari insan bersyukur dan Dia berikan tambahan makmur
    Allah ajari insan berdoa dan Dia jamin akan ijabahnya
    Allah ajari insan bertobat dan Dia jamin diterima tobatnya
    Allah ajari insan istighfar dan Dia sediakan pengampunannya
    Allah ajari insan berderma dan Dia bersedia membalas dermanya

    Abu Bakar r.a. berkata:
    Ada lima kegelapan dan lima penerangnya
    Kegelapan pertama cinta harta, penerangnya dengan bertakwa
    Kegelapan kedua laku maksiat, penerangnya dengan bertobat
    Kegelapan ketiga di alam kubur, penerangnya dengan berdzikir
    Kegelapan keempat alam akhirat, penerangnya dengan bertaat
    Kegelapan kelima jembatan shirath penerangnya dengan i'tiqad

    Umar r.a. berkata:
    Ada lima golongan penghuni surga
    Orang fakir yang menanggung hidup keluarga
    Istri yang disayang oleh suaminya
    Anak yang diridhai kedua orangtuanya
    Calon istri yang mendermakan mahar kepada suaminya
    dan orang mukmin yang selalu bertobat pada Tuhannya

    Utsman r.a. berkata:
    Tanda-tanda orang bertakwa,
    ialah suka berteman insan beriman
    mampu mengendalikan farji dan lisan
    memandang kesukseksan sebagai suatu cobaan
    memandang cobaan sebagai sebuah keberuntungan
    dan mampu menjaga diri dari berlebih-lebihan

    Ail r.a. berkata:
    Seluruh manusia akan menjadi saleh jika saja tak ada lima masalah
    Tak ada kerelaan atas kebodohan
    Tak ada keserakahan atas kekayaan
    Tak ada rasa bakhil atas hartawan
    Tak ada sifat riya’ bagi insan beriman dan
    Tak ada ilmuwan yang mendewakan karya pemikiran

    Jumhur ulama menyatakan:
    Allah muliakan Nabi akhir zaman dengan lima macam keutamaan tentang penyebutan, tentang anggota badan tentang pemberian, tentang kekeliruan dan tentang kerelaan
    Perihal pertama, Allah tidak memanggilnya berdasar nama
    perihal kedua, Allah Sendiri Yang ijabahi pintanya
    perihal ketiga, Allah memberinya tanpa ia meminta
    perihal keempat, Allah telah mengampuninya sebelum ia berbuat dosa
    perihal kelima, Allah selalu menerima apa pun pemberiannya

    Mutiara Berserak Tujuh Kata

    Ibnu Hajar Al-Asqalani
    Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda:
    Tujuh golongan akan dinaungi
    Di bawah panji-panji Ilahi
    Saat tak ada lagi naungan di akhirat nanti

    Pertama, para pemimpin yang bijaksana
    Kedua, para pemuda yang giat berderma
    Ketiga, orang yang mengalir deras air matanya
    saat berdzikir akan Tuhannya
    Keempat, para penghuni Masjid yang bertakwa
    Kelima, para dermawan yang merahasiakan dermanya
    Keenam, sepasang sahabat yang selalu setia bertemu
    dan berpisah hanya karena agama
    Ketujuh, para pemuda yang kuat imannya
    untuk menolak rayuan perempuan jelita

    Abu Bakar r.a. berkata:
    Orang bakhil takkan mampu menghindar
    Dari tujuh perkara yang selalu mengincar
    Yang pertama, ia akan mati
    Hartanya diwarisi oleh sanak famili
    Dan tidak didermakan di jalan Ilahi.
    Yang kedua, ia akan dikuasai
    Oleh para penguasa yang tinggi hati
    Untuk dikuasai hartanya setelah ia disakiti
    Yang ketiga, ia akan merana
    Karena menuruti hawa nafsunya
    Hingga hartanya habis tak tersisa
    Yang keempat, ia ingin membangun istana
    Di atas hamparan rumput savana
    Yang sedianya longsor menelan hartanya
    Yang kelima, datang musibah menimpanya
    Semisal banjir, kebakaran, pencurian
    Yang akan menghanguskan hartanya
    Yang keenam, datang penyakit menyerangnya
    Dan demi kesembuhannya
    Hartanya habis untuk biaya
    Atau ketujuh, dengan berniat mengamankan harta
    Ia simpan hartanya dimana-mana
    Dan setelah itu ia lupa tempatnya

    Ummar bin Khaththab r.a. berkata:
    Apabila orang banyak tertawa
    Maka berkuranglah kewibawaannya
    Apabila memandang rendah sesama
    Maka ia pun akan dipandang rendah pula
    Apabila banyak melakukan suatu perkara
    Maka ia akan dikenal bersama dengan
    hal yang dilakukannya
    Apabila orang banyak bicara
    Maka akan banyak pula kesalahannya
    Apabila orang banyak berbuat nista
    Maka akan sedikit rasa malunya
    Apabila orang sedikit rasa malunya
    Maka akan sedikit pula hati-hatinya
    Apabila orang sedikit hati-hatinya
    Maka matilah hati nuraninya



    Utsman bin Affan r.a. berkata:
    Sungguh aku heran atas manusia
    yang mengerti kematian
    Sedangkan ia tetap tertawa
    Mengerti dunia sebagai sebuah kefanaan
    Sedangkan ia tetap menggandrunginya
    Mengerti segala yang telah digariskan
    Namun tetap sedih saat kehilangannya
    Mengerti hisab amal akan dilaksanakan
    Namun tetap saja ia menumpuk harta
    Mengerti neraka dengan yakin
    Tetapi masih saja berbuat dosa
    Mengerti surga dengan sepenuh iman
    Tetapi masih saja tentram dengan dunia
    Dan mengerti setan adalah lawan
    Sedang terus saja ia mengikutinya
    Ali bin abi Thalib r.a. ditanya:

    Adakah yang lebih berat dari langit?
    Ia menjawab:
    Adalah kebohongan yang dibuat-buat
    Adakah yang lebih luas dari bumi?
    Adalah kebenaran yang Hakiki
    Adakah yang lebih kaya dari samudra?
    Adalah sikap menerima apaadanya
    Adakah yang lebih keras daripada batu?
    Adalah kemunafikan dalam kalbu
    Adakah yang lebih panas daripada bara?
    Adalah kezaliman penguasa
    Adakah yang lebih dingin dari salju?
    Adalah mengharap si bakhil memberi sesuatu
    Dan adakah yang lebih pahit daripada racun?
    Adalah bertahan dalam kesabaran

    Rasulullah Saw bersabda pula:
    Tujuh manusia dihitung syuhada
    laksana mati di medan laga
    ialah orang mati akibat sakit perut
    tenggelam disungai, danau ataupun laut
    sakit tumor yang berkelanjutan
    mati akibat musibah kebakaran
    ataupun mati tertimpa reruntuhan
    terserang paceklik dan kelaparan
    dan ibu yang wafat saat melahirkan

    Mutiara Berserak Delapan Kata

    IBNU HAJAR AL-’ASQALANI
    Delapan hal tak pernah terpuaskan
    Dari apa pun yang pernah didapatkan
    Mata, dan pandangan
    Bumi, dan air hujan
    Perempuan, dan pejantan
    Ilmuwan, dan ilmu pengetahuan
    Perninta-minta, dan hasil pintaan
    Orang serakah, dan tumpukan kekayaan
    Lautan, dan air sungai pegunungan
    Dan api, dan keringnya kekayuan
    Abu Bakar r.a. berkata:
    Delapan hal menjadi hiasan
    Bagi delapan macam kegiatan
    Waspada, menjadi hiasan bagi kefakiran
    Bersyukur, menjadi hiasan bagi kenikmatan
    Bersabar, rnenjadi hiasan bagi cobaan
    Rendah hati, bagi nilai luhur kepribadian
    Bijaksana bagi ilmu pengetahuan
    Sikap rendah hati, bagi ilmuwan
    Disiplin diri, bagi upaya perbaikan
    Dan khusyu’ pada saat menghadap Tuhan
    Umar bin Khaththab r.a. berkata:
    Orang yang tak suka banyak bicara
    Maka ia akan meraih derajat kebijakan
    Orang yang tak suka banyak pilihan
    Ia akan meraih titik ketenangan
    Orang yang tak suka banyak makan
    Ia akan meraih nikmatnya kebaktian
    Orang yang tak suka banyak tertawa
    Ia akan meraih cahaya kewibawaan
    Orang yang tak suka banyak bergurau
    Ia akan meraih luhurnya kehormatan
    Orang yang tak tergila-gila kehidupan dunia
    Ia akan meraih kenikmatan surga di sisi Tuhan
    Orang yang tak suka turut campur tangan
    Aib dirinya akan terselamatkan
    Dan orang yang tak suka menyelidik kekuasaan Tuhan
    Ia akan selamat dari kemunafikan
    Utsman r.a. berkata:
    Ada delapan tanda-tanda kearifan
    Hatinya selalu diliputi takut dosa
    dan pengharapan ampun
    Lisannya selalu memuji dan memuja Tuhan
    Matanya tampak sayu penuh malu dan bekas tangisan Keinginannya selalu mengorbankan diri
    dan mencari keridhaan
    Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
    Tak ada kebajikan pada delapan persoalan
    Pada shalat yang tak khusyu’ pelaksanaannya
    Pada puasa yang tak mampu mengekang lisannya
    Pada membaca al-Qur’an yang tak disertai merenunginya
    Pada ilmu yang tidak mengajarkan sikap waspada
    Pada harta yang membuat orang lalai berderma
    Pada persahabatan yang tak langgeng dipelihara
    Pada kenikmatan yang hanya dinikmati untuk semasa
    Serta pada doa yang tidak tulus saat meminta

    Saturday, February 11, 2012

    Mutiara Berserak Sembilan Kata

    Rasulullah Saw. bersabda:
    Dalam Taurat Allah berfirman kepada Nabi Musa a.s.
    Sumber segala dosa adalah keras kepala Sifat hasuddan serakah
    dari ketiganya muncul enam perkara
    Makan enak, tidur nyenyak
    Bersuka ria, cinta harta,cinta dipuja dan tahta

    Abu bakar ra. berkata:
    Ada tiga macam cara para abid menyembah Tuhannya
    Kelompok pertama, dengan cara takut dosa
    Ciri-cirinya: Memandang rendah akan dirinya
    Merasa sedikit kebaikannya
    Dan merasa tak terhingga kejahatannya
    Kelompok kedua dengan cara menabur asa
    Ciri-cirinya: Menjadi panutan bagi sesamanya
    Menjadi penderma yang merasa tidak butuh harta benda
    Dan berbaik sangka pada seluruh makhluk didunia
    Kelompok ketiga dengan jalan mencinta
    Ciri-cirinya: Mendermakan harta yang masih disuka
    Mendorong dirinya untuk melakukan darma
    Dan merasa selalu bersama Tuhannya
    Umar ra. berkata:
    Ada sembilan anak cucu setan Yang masing-masing mempunyai keahlian
    Zulaitun, menguasai pasar dan tempat-tempat keramaian
    Watsin, mempengaruhi orang yang tertimap penderitaan agar mengumpat Tuhan
    A’wan, mempengaruhi para pemimpin agar mereka melakukan kezaliman
    Hafaf, merayu para pemabuk agar tidak meninggalkan minum-minuman
    Murrah,mempengaruhi para pemusik agar jangan tinggalkan musik dan permainan
    Laqus, mempengaruhi orang-orang Yahudi agar selalu berbuat keonaran
    Masuth, menyuplai ide dan gagasan pada orang-orang yang suka keonaran
    Dasim, mengacaukan keharmonisan rumah tangga agar terjadi pertikaian dann perceraian
    Walhan, membuat was-was hati manusia ketika wudhu, shalat dan menjalani peribadahan
    Utsman bin Affan ra. mengatakan:
    Apabila seseorang menjaga shalat tepat waktu Niscaya akan dimuliakan Allah dengan sembilan keutamaan
    Pertama, dicintai dan dikasihi
    Kedua, diberi kesehatan jiwa raga
    Ketiga, dijaga malaikat dari marabahaya
    Keempat, dianugrahi rumah tangga yang sejahtera
    Kelima, wajah berseri laksana para baginda raja
    Keenam, ketajaman hati dan indera
    Ketujuh, melewati shirath laksana petir menembus cakrawala
    Kedelapan, diselamatkan dari neraka
    Kesembilan, masuk surga bersama para auliya
    Ali bin Abi Thalib ra. mengatakan:
    Ada tiga macam alasan mengapa orang menangis
    Pertama, karena takut dosa
    Kedua, karena takut mendapat murka
    Ketiga, karena takut dikucilkan Tuhannya
    Tangisan pertama membuahkan leburnya dosa dan membuatnya selamat dari neraka
    Tangisan kedua membuahkan bersih dari cela dan membuatnya memperoleh derajat mulia
    Tangisan ketiga membuahkan diraihnya ridha Sang Esa hingga menemuinya dengan suka cita

    Mutiara Berserak Sepuluh Kata

    Ibnu Ibnu Hajar Al-Asqalani
    Rasulullah Saw. bersabda:
    Bersiwaklah, karena di dalamnya ada sepuluh keutamaan
    Membersihkan mulut dari sisa makanan
    Mendatangkan rahmat Tuhan
    Mengundang amarah setan
    Dicintai malaikat dan Tuhan
    Memperkuat gusi
    Mencegah hidung dari alergi
    Menyehatkan empedu dan pencernaan
    Menyembuhkam panas dari dalam badan
    Menajamkan daya penglihatan
    Dan menghilangkan bau mulut yang menjengkelkan
    Abu Bakar r.a. mengatakan:
    Apabila seseorang telah dianugrahi Sepuluh anugrah dari Ilahi Sungguh ia telah dilindungi Dari malapetaka yang menyelimuti Dan termasuk hamba yang dekat dengan Ilahi Serta memperoleh penghargaan “orang suci”
    Pertama, kejujuran abadi disertai ketulusan hati
    Kedua, kesabaran sempurna disertai rasa syukur sepanjang masa
    Ketiga, kondisi fakir disertai sikap zuhud yang selalu hadir
    Keempat, tafakur tentang makhluk disertai lapar yang mengetuk
    Kelima, kegelisahan jiwa disertai ketakwaan pada Sang Esa
    Keenam, kesungguhan hati disertai sifat rendah hati
    Ketujuh, ramah tamah disertai sayang dan penuh kasih
    Kedelapan, cinta sejati disertai upaya mawas diri
    Kesembilan, ilmu manfaat disertai kemauan untuk berbuat
    Kesepuluh, iman yang teguh disertai akal yang kukuh
    Umar bin Khaththab r.a. mengatakan:
    Akal akan binasa, tanpa usaha menjauhi dosa
    Pekerjaan akan sia-sia tanpa didasari ilmu yang berguna
    Kekuasaan akan sirna bila keadilan tidak tercipta
    Jabatan tiada gunanyatanpa pekerti yang mulia
    Kebahagiaan tiada artinya tanpa adanya hati yang rela
    Kekayaan akan binasa apabila tak pernah diderma
    Kefakiran akan nestapa tanpa adanya jiwa lapang dada
    Kejayaan takkan tercipta tanpa rendah diri hati sang penguasa.
    Perjuangan takkan lama tanpa upaya terus membina
    Dan keuntungan tak akan seberapa tanpa didukung iman dan takwa
    Utsman bin Affan r.a. berkata:
    Sungguh sia-sia Orang alim yang tidak dimanfaatkan Ilmu yang tidak disosialisasikan Pemikiran benar yang dikesampingkan Pedang yang tidak dipergunakan Dan umur panjang yang disia-siakan
    Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
    Sebaik-baik warisan adalah ilmu yang berguna
    Sebaik-baik tindakan adalah akhlak yang mulia
    Sebaik-baik bekal adalah takwa
    Sebaik-baik dagangan adalah taat beragama
    Sebaik-baik sahabat adalah perilaku utama
    Sebaik-baik pendamping adalah sikap bijaksana
    Sebaik-baik kekayaan adalah jiwa lapang dada
    Sebaik-baik pertolongan adalah petunjuk yang sebenarnya
    Dan sebaik-baik guru adalah kematian yang akan tiba
    Rasulullah Saw. bersabda:
    Sepuluh macam orang dari ummatku Mereka telah kafir namun merasa dirinya muslim
    Ialah pembunuh muslim tanpa alasan
    Ahli sihir, sebagaimana dikecam Al-Qur’an
    Suami yang tak curiga terhadap istrinya
    Orang yang enggan mengeluarkan zakat harta bendanya
    Peminum minuman yang memabukkan
    Orang yang telah wajib haji namun belum juga melaksanakannya
    Penyebar fitnah dengan segala kebohongan
    Penjual senjata pada pengacau keamanan
    Menyetubuhi istri pada anusnya
    Dan menikahi perempuan yang jelas mahramnya
    Apabila mereka mengira Perbuatan-perbuatan tersebut diperbolehkan agama Maka sungguh kufurlah mereka.
    Rasulullah Saw. bersabda pula:
    Tidak dikatakan beriman, para makhluk Tuhan
    Sehingga mereka saling berasih-asihan
    Tidak dikatakan mereka berasih-asihan
    Sehingga mereka menjalankan perintah Tuhan
    Sehingga mereka menjadi ilmuwan
    Tidak dikatakan mereka ilmuwan
    Sehingga ilmunya benar-benar dipraktikan
    Tidak dikatakan mereka mempraktikkan
    Sehingga menjauhi cinta kebendaan
    Tidak dikatakan menjauhi cinta kebendaan
    Sehingga mereka dipenuhi sikap kehati-hatian
    Tidak dikatakan penuh sikap kehati-hatian
    Sehingga mereka rendah hati
    TIdak dikatakan mereka rendah hati
    Sehingga mereka memahami dirinya sendiri

    maraji# :sufinews